Kedung Banteng's Society

https://kedungbantengcity.files.wordpress.com/2011/05/koinemasdinardemak.jpg?w=271

Di hadapan lebih dari seratus audiens yang menghadiri Seminar Dinar sebagai Solusi Krisis Finansial Global, Bpk Zaim Saidi, Direktur WIN, meluncurkan Dinar Emas dengan satuan dan corak baru, yaitu koin 2 Dinar (8.5 gr, 22 karat, diameter 26 mm) dengan corak Masjid Agung Demak. Pemilihan Masjid Agung Demak ini didasarkan kepada kenyataan sejarah bahwa Islam pertama kali masuk di Pulau Jawa melalui Kesultanan Demak.

Kesultanan Demak sendiri didirikan oleh seorang pangeran, Raden Patah, yang kelak menjadi Sultan I Demak, yang memimpin rakyatnya (1475-1518 M), dengan syariat Islam sebagai hukumnya. Nama asli Raden Patah adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi) raja Majapahit dari selir Cina. Kronik Cina ini memberitakan tahun kelahiran Jin Bun adalah 1455. Mungkin Raden Patah lahir saat Bhre Kertabhumi belum menjadi raja (memerintah tahun 1474-1478).

Selama memimpin kesultanan Demak Raden Patah didampingi oleh para syekh dan aulia, khususnya Sunan Kalijaga. Masjid Agung Demak dibangun oleh para wali ini, yang dikenal sebagai Wali Songo, di zaman Raden Patah. Sebagai Sultan Demak I Raden Patah bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama, selain bergelar Sultan Syah Alam Akbar.

Koin Masjid DemakDalam waktu dekat satuan koin Dinar Emas dengan nilai 1/2 Dinar, juga dengan corak Masjid Agung Demak, akan mulai diedarkan ke masyarakat. Sementara itu, untuk Dinar Emas dengan satuan 1 Dinar, masih tetap bercorak Masjid Nabawi, Madinah, tetapi dengan sedikit modifikasi. Pada bagian belakang koin ditambahkan penanda khusus, berupa logo WIN (Wakala Induk Nusantara), yang juga dibubuhkan pada satuan Dinar lain (baik 2 maupun 1/2 Dinar). Tujuan penambahan penanda khusus ini untuk meningkatkan keamanannya dari upaya pemalsuan, dan jaminan atas kualitas koinnya.

Dalam seminarnya sendiri, Bpk. Zaim Saidi, sebagai salah satu nara sumber, menjelaskan akar persoalan krisis finasial global yaitu sistem riba dan Dinar Dirham sebagai pintu masuk pada solusinya, yakni pengembalian muamalat. Hal ini mendapatkan perhatian penuh dari lebih dari semua hadirin. Pemahaman audiens dibuktikan dengan banyaknya penukaran secara spontan uang rupiah menjadi Dinar emas yang dilakukan di Wakala yang khusus dibuka selama festival berlangsung. Sedangkan biasanya Wakala hanya dioperasikan di hari kerja.

Hari itu, sedikitnya, ada 400 Dirham dan 65 Dinar tambahan telah beredar dan berada di tangan masyarakat melalui perdagangan. Emas dan perak yang ditimbun di brankas-brankas segelintir orang, perlahan-lahan, mulai kembali ke kantong-kantong tukang cendol, penjual beras, dan para pedagang kecil lainnya.

Pemakaian Masjid Agung Demak sebagai corak Dinar Nusantara diharapkan akan memperkuat dorongan batin masyarakat Indonesia untuk terbukanya kembali muamalat. Sebagaimana makna dari nama (Raden) Patah sendiri, sebagai pendiri Masjid Agung Demak, berasal dari kata al-Fatah, yang artinya “Sang Pembuka”, karena ia memang pembuka kerajaan Islam pertama di pulau Jawa.

Koin emas dinar yang diterbitkan oleh WIN (Wakala Indonesia Nusantara) ini menjadi harapan baru untuk mengatasi permasalahan ekonomi yang didasari paham kapitalisme.

referensi : http://wakalanusantara.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: