Kedung Banteng's Society

https://i1.wp.com/danamonaward.org/images/finalis/pic-41317343358.jpg

KARMONO tak menyangka, jika keisengannya 25 tahun lalu, berbuah berkah bagi sebagian warga Kabupaten Demak. Kala itu, ketika masyarakat di Desa Betoan tempatnya tinggal menjadikan belimbing sebagai tanaman buah andalan, pria yang kini berusia 64 tahun ini, membeli empat bibit jambu air tetangga desa, Desa Krapyak. Keempat bibit tersebut di tanam di sela-sela kebun belimbingnya. Ramsiyah, istrinya sempat melarang, takut mengganggu tanaman belimbingnya. “Biarkan saja, nanti kalau buahnya jelek, jambu ini kita tebang,” kata Karmono saat itu.

Tiga tahun kemudian, empat pohon itu menghasilkan buah yang luar biasa: merah, tebal, manis dan banyak. Saat itu panen empat pohon jambunya menghasilkan Rp 670 ribu. “Bisa untuk membayar kuliah dua anak saya,” kenangnya. Padahal, panen belimbing satu kebunnya hanya menghasilkan Rp 200 ribu. Saat itulah, dia mulai mencangkok pohon jambunya, baik untuk ditanam sendiri, maupun bagi warga yang lain. Alhasil, sejak tahun 1990, jambu merah yang belakangan populer sebagai jambu Merah Delima tersebut, perlahan mulai menggeser popularitas belimbing yang saat itu memang sudah menjadi buah andalan Demak.

Sejatinya, jambu Merah Delima bukan varietas hasil rekayasa pertanian Karmono. Dia hanya menanam sejak mendapatkannya dari Desa Krapyak. “Namun dengan perawatan yang teliti, buah ini bisa menjadi komoditi yang luar biasa,” kata pensiunan guru Sekolah Dasar ini.

Dia berkisah, sebagian besar Desa Krapyak adalah pegawai dan pedagang. Tidak ada yang membudidayakan jambu merah ataupun belimbing. Warga di sana juga kaget jika jambu Merah Delima yang kini menjadi ikon pertanian Demak, ternyata berasal dari desa tersebut.

Ketika jambu yang dia budidayakan makin populer, dia memberi nama Merah Delima. Merah, karena warna jambunya yang memang merah, sedangkan Delima singkatan dari kandel (tebal) dan lima. Daging buah jambu ini memang tebal, dibanding jambu air lainnya. Delima juga sering diartikan Kandel Iling Marang Allah  (Rasa ingat yang tebal kepada Allah). Dengan harapan, warga Demak makin tinggi ketakwaannya kepada Tuhan. Merah Delima makin terkenal karena Karmono sering mengikuti lomba dan pameran pertanian di beberapa daerah. Karmono juga mendirikan kelompok tani Merah Delima di desanya.

Kini, hampir semua halaman rumah di perkampungan Kota Wali itu, terdapat pohon Merah Delima sebagai tanaman dan penghasilan sambilan. Tanaman itu menggantikan belimbing. Merah Delima mampu meningkatkan penghasilan ribuan petani.  Tak sedikit petani yang mengganti kebun belimbingnya dengan Merah Delima. Hal ini tak lepas dari nilai ekonomi Merah Delima yang lebih menjanjikan dibanding belimbing. Saat ini selisih harga per kilonya antara belimbing dengan Merah Delima sekitar Rp 5 ribu. Padahal, perawatan belimbing lebih susah.

Sebetulnya, ada petani di Demak yang menemukan varieatas jambu air baru, yakni jambu Citra dengan rasa yang lebih manis dan daging yang tebal. Harganya per kilonya lebih mahal sekitar Rp 5 ribu. Hanya saja, jambu Citra rentan rontok, sehingga petani enggan membudidayakannya.

Kunci keberhasilan penanaman Merah Delima adalah penggunaan pupuk kandang dan sering disiram air. Selain mempersubur tanaman, mampu mengusir hama cabak (kutu berwarna putih). Hama ini merusak buah dan membuat daun mengerut. Cabak tidak bisa dimusnahkan dengan pestisida, namun bisa diusir dengan air. Pemberian pestisida yang berlebihan juga mengurangi kualitas rasa.

Kendala yang dialami budidaya Merah Delima adalah akses pengairan. Maklum, Demak adalah daerah yang rentan kekeringan. Solusinya, petani menggunakan mesin pompa air untuk mengalirkan air dari sungai. Mesin pompa air didapatkan dari bantuan pemerintah setempat atau swadaya. Kendala lain, jika terjadi panen raya, harga jambu turun. Untuk mencegahnya, Karmono mendesak kepada Pemerintah Demak membuka akses pasar ke luar daerah.

Meski Merah Delima menjanjikan nilai ekonomi yang lebih tinggi, namun Karmono selalu mengkampanyekan kepada petani untuk tidak meninggalkan tanaman belimbing Demak yang diyakini memiliki akar legenda dengan Sunan Kalijaga. Di kebun miliknya, Karmono mengembangkan cangkok pohon belimbing, agar masyarakat mudah menanam belimbing. Salah satu keberhasilannya adalah merubah tanaman keras seperti jambu dan belimbing, menjadi tanaman hias, yang mampu menghasilkan buah dengan rasa dan ukuran yang sama dengan hasil kebun.

Kini, Merah Delima menjadi tanaman yang mudah dijumpai di halaman rumah-rumah warga. Demikian pula belimbing, meski tak sebanyak Merah Delima. Belimbing Demak juga masih eksis, meski popularitasnya tergerogoti belimbing dari Blitar. Hal ini disebabkan produksi belimbing dari Blitar jauh lebih banyak, meski rasanya tetap tak bisa mengalahkan belimbing Demak.

sumber: http://danamonaward.org/index/finalis/1/finalis%20ke-1.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: